Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Kamis, 03 November 2011

Ilmu atau prestis?

Akhir-akhir ini banyak hal-hal yang benar-benar menyita perhatianku..
Salah satunya terjadi setelah aku membaca suatu pernyataan di salah satu web page :
Bapak : “Nak, sekolah yang bener, biar nanti bisa dapet pekerjaan bagus, trus bisa nikah dan hidup bahagia.”
Anak : (dalam hati) “apa iya hidup itu cuma buat sekolah-kerja- nikah-mati?”

Ya.
Apa iya hidup cuma buat sekolah, kerja, nikah, terus mati??
Haloooo!
Apa hidup nggak bisa dibuat lebih bermanfaat dari itu?
sekolah-kerja- nikah
sekolah-kerja- nikah
sekolah-kerja- nikah
hanya ada kebutuhan individu disana.
Apa iya mau mati hanya dengan puas melihat apa yang sudah dilakukan untuk diri sendiri?
Apa iya bisa bahagia hanya dengan sekolah-kerja- nikah ?
Apa membantu sesama, memikirkan sesama, tidak diperhitungkan selama perjalanan hidup kita?
Kalau  orang lain tidak penting, kenapa dalam ajaran agama islam ada penggalan ajaran, “cintai orang lain seperti mencintai dirimu sendiri” ?
Jelas-jelas pernyataan itu menyiratkan arti bahwa kita harus peduli terhadap sesama kan?
Kehidupan tidak melulu berpusat pada diri sendiri.
Ada orang lain yang harus dipikirkan.
Ada oranng lain yang harus dibantu.
Tentunya membantu dalam hal-hal yang baik.
Hal yang mutlak baik.
Bukan karena budaya yang dibiasakan, sehingga yang tidak baik menjadi baik dan sebaliknya.
-oo-
Memang membantu sesama memang perlu.
Namun akhir-akhir ini, membantu sesama tidak selalu benar.
Contohnya saja di sekolah, anak yang tidak mau nyontek atau memberi contekan akan menjadi kaum minoritas karena dianggap tidak membantu sesama.
Ayolah, itu bukan membantu namanya. Tapi menjerumuskan.
Iya. Memang membantu. Membantu menipu diri sendiri dan orang lain.

Ya.
Aku juga mengalami hal seperti itu.
Apa aku nggak pernah nyontek dan memberi  contekan?
Jelas pernah.

Menurutku, masa terjujur mendapat ilmu adalah saat masih duduk di Sekolah Dasar.
Para murid berusaha menjawab sendiri, dan menutupi jawabannya, bahkan bila perlu dengan menggunakan tempat pensil dan tangannya untuk menyembunyikan jawabannya.
Memasuki Sekolah Menengah Pertama, para murid mulai belajar bagaimana mencontek .
Memasuki Sekolah Menengah Atas, para murid sudah lihai  mencontek.
Jadi, kita memasuki jenjang yang lebih atas untuk meningkatkan kelihaian mencontek kita?
*Dan gilanya, ada beberapa guru yang menyuruh murid-murid yang punya kemampuan belajar di atas rata-rata agar memberi contekan kepada murid-murid yang punya kemampuan belajar dibawahnya saat ujian. Atau lebih tepatnya memaksa, karena menyuruhnya disertai ancaman dan blablabla yang menuntut untuk dikerjakan.*

Hhhh…
Lalu aku tanya diriku sendiri,
“Buat apa nyontek?
Apa yang kamu dapat dari nyontek?
Dapet nilai bagus?
Biar dipuji orang?
Untuk prestis?
Terus buat apa kamu sekolah?
Hanya untuk mendapat prestis?
Apakah kau tak ingin mendapat ilmu yang jelas-jelas lebih hebat daripada prestis?
Apa kau tak ingin mendapat ilmu yang mendekatkanmu kepada Sang Pencipta?
Apa kau tak ingin mendapat ilmu yang dapat menaikkan derajatmu di mata Tuhan?
Dan Apa kau tak ingin mendapat ilmu yang dapat sangat berguna bagi masyarakat?
Apa prestis-mu itu bisa kau gunakan untuk membantu orang lain?
Tidak.
Jelas tidak. “

Ya.
Aku sadar,selama ini aku hanya mengejar nilai tinggi.
Entah karena tekanan orang tua atau karena sudah terpatok pada  sekolah-kerja-kawin saja.

Namun tak dipungkiri. Semuanya butuh proses.
Awalnya memang sulit.
Tekanan disekitarku selalu menuntut mencontek dan memberi contekan.
Akhirnya perlahan-lahan aku bisa menegaskan diriku sendiri.
Aku menegaskan diriku untuk tidak mencontek  dan memberi contekan.
Ayolah kawan, aku tak ingin kau menipu dirimu sendiri.
Dan ya, Alhamdulillah,aku sukses jadi kelompok minoritas.
Kelompok yang dibenci sebagian orang karena tidak mau bekerja sama.
Namun aku bangga karena menurutku itulah yang benar.
Aku mau ilmu, bukan sekedar nilai.
Dan aku mau ilmuku bermanfaat kelak (amiin)
Untuk apalagi hidup ini jika tidak untuk kebaikan bersama yang dilandasi lillahi ta’ala.
Memang berat, tapi aku yakin jika mau mencoba, pasti bisa! :)
-oo-

Terimakasih Allah, telah mengirimkan Mam Mas untuk menyadarkanku.
Walau agak telat untuk berubah karena sudah kelas 3, tapi itu lebih baik daripada tidak berubah sama sekali.
Dan sekarang, aku bisa masuk perguruan tinggi dengan hati tenang.
Karena sekarang targetku adalah ilmu. Bukan sekedar nilai tinggi. :)
Aku juga tak mau, sikap menghalalkan segala cara seperti menyontek dan dicontek agar mendapat nilai tinggi,saat kerja nanti akan berubah menjadi suap-menyuap,korupsi,dan segala perbuatan lainnya untuk menguntungkan posisi diri sendiri,agar menjadi orang paling atas dan bisa mendapatkan apa-apa yang menurutku bukanlah hal yang baik.  :)



0 commentbeats:

Posting Komentar