Dreams are renewable. No matter what our age or condition, there are still untapped possibilities within us and new beauty waiting to be born.

-Dale Turner-

Kamis, 10 November 2011

Lucuu sekali

Masih ingat resensi saya tentang film "Alangkah Lucunya (Negeri Ini)" kan?
Kalau tidak, silahkan liat postingan saya sebelumnya :)
Postingan kali ini saya ingin mengktritik Indonesia dari film tersebut.


Saya pernah bilang di resensi film ini bahwa film ini memaparkan masalah-masalah Indonesia kan?
Ya, ada 3 masalah utama Indonesia yang dipaparkan oleh film ini, yaitu :



Pendidikan.
Korupsi.
Ketidakadilan.

Di film ini diperlihatkan bagaimana rakyat jelata memandang pendidikan.
Ada yang berpendapat penting, ada yang berpendapat tidak penting.
Ada satu quote yang menarik dari film ini.
Apa itu?

“Pendidikan itu penting jika ada koneksi. Jika tidak, pendidikan itu tidak penting”

Nah lo, jujur saja ya, ya itu yang aku rasa sedang terjadi di Indonesia.
Tak ada koneksi, percuma jadi sarjana.
Toh, bakal nganggur juga kalau waktu melamar pekerjaan tersingkirkan oleh pelamar lain yang “dibawa” orang dalam.
Yang benar-benar berkualitas malah tersingkir.

Para DPR yag sedang membawa aspirasi masyarakat agar rakyat bisa sejahtera
Abang tukang becak aja bisa jadi anggota DPR kalau ada koneksi.
Sarjana S1, lulus dengan pujian, bisa-bisa kalah dengan abang tukang becak kalau tak ada koneksi.
Kenapa abang tukang becak lebih dipilih oleh anggota DPR menjadi bagian baru darinya??
Tentu agar dapat dibodohi dan diajak kerjasama untuk korupsi dengan mudah.
Coba kalau orang yang benar-benar pintar, pasti akan terjadi suatu negosiasi yang puanjaang dulu.
Bisa-bisa orang pintar yang dimasukkan ini mebongkar sindikat korupsi mereka.
Dan ya, lagi-lagi itu adalah rahasia umum di Indonesia *jangan bilang-bilang ya*

Yang paling mengena menurutku adalah akhir dari cerita ini.

Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.

Pasal 34 ayat 1 UUD 1945 

Yak, pasal itulah yang jadi penutup film ini.
Cih, jadi ingin tertawa.
Apanya yang dipelihara coba? Penderitaan mereka?

Mirisnya melihat mereka. 1 bungkus nasi saja harus dibagi untuk 3 orang, mana kenyaaang :(

Ketidakadilan Indonesia *yang mengaku-ngaku sebagai negara hukum* juga dipaparkan dalam film ini.
Tukang asong yang berusaha mencari rejeki halal di jalan-jalan, ditangkap aparat keamanan hanya karena alasan mengganggu lalu lintas.
Sedangkan para koruptor yang mencuri uang rakyat, yang telah memiskinkan banyak orang, termasuk aparat keamanan itu sendiri, dibiarkan bebas begitu saja.
Mendengar ada copet gelisah luar biasa, namun mendengar ada koruptor biasa saja.

Aih, negeri ini memang lucu sekali kok.

0 commentbeats:

Posting Komentar